Jatim.Rasionews.com | Jembrana Bali— Suasana duka menyelimuti kawasan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Kamis malam. Seorang sopir truk asal Lumajang, Jawa Timur, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri sekitar pukul 22.00 WITA.
Peristiwa tersebut segera mendapat perhatian dari sejumlah pihak yang berada di lokasi. Petugas Puskesmas Gilimanuk bersama anggota Yonif TP 938 Brata Sena Yudha, serta rekan-rekan dari GAPIBER atau Gerakan Aliansi Pengemudi Indonesia Bersatu dan GAPIBA, Gerakan Aliansi Pengemudi Bali, turut memberikan bantuan dan melakukan upaya pertolongan.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, korban dinyatakan telah meninggal dunia di Kabupaten Jembrana Bali Hari Rabi(26-08-2026).
Kabar duka ini kemudian dengan cepat menyebar di kalangan komunitas pengemudi. Sejumlah ketua komunitas sopir yang selama ini menjalin komunikasi dan solidaritas lintas daerah langsung bergerak. Mereka saling berkoordinasi untuk mencari dan menghubungi pihak keluarga korban, sekaligus menghubungi bos atau pemilik kendaraanrelawan ambulans dari Banyuwangi.
Relawan ambulans Banyuwangi tersebut memang telah lama menjalin sinergi dengan berbagai komunitas sopir lintas daerah. Hubungan dan kerja sama kemanusiaan ini disebut telah terjalin selama kurang lebih sepuluh tahun.
“Bagi para pengemudi, perjalanan di jalan raya bukan hanya soal mencari nafkah. Ada ikatan persaudaraan yang terbentuk karena mereka sama-sama merasakan kerasnya kehidupan di jalan, jauh dari keluarga, menghadapi berbagai risiko dan kondisi yang tidak selalu bisa diprediksi,”Ujar Dado Sopir Ambulans.
Malam itu, rasa persaudaraan tersebut kembali diwujudkan dalam bentuk nyata.
Setelah seluruh proses penanganan dan koordinasi dilakukan, ambulans relawan dari Banyuwangi bergerak menuju Lumajang untuk mengantarkan jenazah korban ke kampung halamannya.
- Advertisement -
Perjalanan panjang dari Bali menuju Lumajang menjadi perjalanan terakhir bagi sang sopir sebelum kembali berkumpul dengan keluarga tercinta.
“Di balik kemudi truk, para sopir seperti Mas Dado dan rekan-rekan pengemudi lainnya tentu memahami betul bahwa jalan raya memiliki risiko yang tidak kecil. Mereka bekerja dari satu daerah ke daerah lain, menempuh perjalanan panjang, meninggalkan keluarga demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Kematian seorang sopir di perjalanan tentu menjadi duka yang sangat dalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi sesama pengemudi yang selama ini menganggap satu sama lain sebagai saudara di jalan”.
- Advertisement -
Dari Gilimanuk, Jembrana, Bali, hingga perjalanan menuju Lumajang, Jawa Timur, solidaritas lintas komunitas kembali membuktikan bahwa di tengah kerasnya kehidupan di jalan raya, masih ada kepedulian dan rasa kemanusiaan.
“Para ketua komunitas sopir yang terlibat dalam komunikasi dan proses pemulangan jenazah berharap apa yang mereka lakukan dapat sedikit meringankan beban keluarga korban,” Ucap Dado Sopir Ambulan.
Mereka juga berharap perjalanan menuju Lumajang berjalan lancar sehingga jenazah dapat segera tiba dan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan di kampung halaman.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap kendaraan yang melintas di jalan raya, ada seorang manusia yang memiliki keluarga, memiliki orang-orang yang menunggu kepulangannya, dan memiliki harapan untuk kembali dengan selamat.
Kini, perjalanan sang sopir telah berakhir.
Dari Bali menuju Lumajang, bukan lagi membawa muatan, melainkan membawa jenazah seorang rekan seperjuangan untuk kembali kepada keluarganya.
“Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.
Solidaritas pengemudi lintas daerah kembali menunjukkan satu hal: ketika seorang sopir mengalami musibah,
saudara-saudaranya di jalan akan berusaha hadir dan mengantarkan hingga perjalanan terakhir”.
“Darmawan dan sugiarto sebagai kordinator FORKOM lintas Komunitas sopir yang tergabung di dalam wadah GAPIBER dan GAPIBA, Selalu memberikan himbauan jaga kesehatan, kebersihan selama mengemudi makan yang teratur, jika malam hari pergunakan jaket, biasakan mengunakan masker, karena keluarga yang dirumah menanti dengan keadaan sehat dan selamat,” Ucap Darmawan.
Pewarta: Supartono.



