Diduga Korban Pengeroyokan, Keluarga Minta Polisi Usut Tuntas Kasus ini
Lumajang , Jatim Rasionews.com| Seorang siswa diduga menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh dua teman sekelasnya. Keluarga korban meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut dan memproses para terduga pelaku, sesuai hukum yang berlaku.Selasa(30/6/2026)
Kakak kandung korban, Ahmad Danny, mengaku pertama kali mengetahui dugaan pengeroyokan tersebut melalui pesan WhatsApp yang dikirim adiknya pada 18 Mei 2026. Dalam pesan itu, korban mengaku telah dipukuli hingga hampir meninggal dunia.
“Adik saya langsung WhatsApp ke saya juga. Dia bilang disiksa sampai hampir mati. Saya kemudian meminta foto lukanya dari dekat agar jelas. Setelah itu saya tanya siapa yang memukul, dan adik saya menjawab ada dua orang, yaitu D dan A,” ujar Ahmad Danny.
Usai menerima pesan tersebut, Ahmad Danny segera menghubungi guru korban melalui WhatsApp. Berdasarkan keterangan guru, korban telah diamankan di ruang guru. Keesokan harinya, keluarga diminta datang ke sekolah untuk bertemu dengan pihak sekolah serta orang tua siswa yang diduga terlibat.
Menurut Ahmad Danny, peristiwa itu diduga dipicu persoalan sampah yang berada di bawah meja kelas. Meski korban telah menjelaskan bahwa dirinya bukan orang yang membuang sampah tersebut, dua siswa yang saat itu bertugas piket diduga tetap melampiaskan kemarahannya kepada korban.
- Advertisement -
“Awalnya karena ada sampah di bawah meja. Yang membuang sebenarnya bukan adik saya, tetapi mereka mengira adik saya pelakunya. Padahal adik saya sudah menjelaskan kalau bukan dia,” katanya.
Korban disebut tidak sempat melakukan perlawanan karena diduga dikeroyok oleh dua orang di dalam ruang kelas saat jam istirahat.
“Dia tidak sempat membela diri karena dikeroyok. Kejadiannya di ruang kelas saat istirahat,” ungkap Ahmad Danny.
- Advertisement -
Beberapa waktu setelah kejadian, kondisi kesehatan korban mulai menurun. Ahmad Danny menuturkan, sekitar tiga hari sebelum meninggal dunia, adiknya mengeluhkan gusi dan giginya terus mengeluarkan darah.
“Awalnya diperiksa dan diberi obat. Karena masih terus berdarah, dibawa lagi ke dokter lalu giginya dicabut. Besoknya kondisinya semakin parah sehingga dirujuk ke rumah sakit di Lumajang atas rekomendasi dokter,” tuturnya.
Sebelum menjalani perawatan di rumah sakit, korban sempat datang ke sekolah untuk mengambil Surat Keterangan Lulus (SKL). Saat itu korban mengaku kepada gurunya hanya mengalami sariawan.
Sementara itu, ibu kandung korban, Sanitri, berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas perkara tersebut. Ia meminta seluruh pihak yang nantinya terbukti bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan hukum.
“Saya minta pelaku dihukum seberat-beratnya dengan hukuman yang setimpal atas kejadian yang menimpa anak saya,” tegas Sanitri.
Dukungan juga disampaikan Kepala Desa Jatisari, Mistu. Ia menyatakan turut memberikan perhatian terhadap kasus tersebut dan siap mengawal proses hukum hingga tuntas.
“Kami akan terus mengawal proses hukum kasus ini. Jika kasus ini tidak ditangani secara serius, saya siap mendampingi keluarga untuk kembali melaporkan ke pihak kepolisian guna memastikan keadilan bagi korban,” ujar Mistu.
Hingga kini, kasus dugaan pengeroyokan tersebut masih dalam penanganan kepolisian. Pihak keluarga berharap penyelidikan dapat mengungkap secara menyeluruh kronologi kejadian, termasuk memastikan ada atau tidaknya keterkaitan antara dugaan pengeroyokan yang dialami korban dengan kondisi kesehatannya hingga akhirnya meninggal dunia.
(Kib)




