Bertahan di Tengah Tekanan Biaya, Perajin Tempe Lumajang Terus Menjaga Warisan Keluarga
Lumajang, Jatim Rasionews.com Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha mikro. Di Desa Labruk Lor, Kabupaten Lumajang, kondisi tersebut turut dirasakan Umi Jamilah yang selama bertahun-tahun menggeluti usaha pembuatan tempe warisan keluarga.
Demi menjaga keberlangsungan usaha, Umi harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Harga jual tempe yang sebelumnya sekitar Rp5.000 per bungkus kini disesuaikan menjadi Rp7.000.
Penyesuaian harga itu dilakukan agar usaha tetap berjalan tanpa harus mengurangi kualitas produk yang selama ini menjadi kepercayaan pelanggan.
“Tetap dijual, hanya harganya naik sedikit. Kalau tidak begitu, sulit untuk menutup biaya produksi,” ujarnya.
Bagi Umi, mempertahankan kualitas adalah hal yang penting. Ia tidak ingin kenaikan biaya produksi berdampak pada mutu tempe yang telah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama beberapa generasi.
- Advertisement -
Namun persoalan yang dihadapi tidak hanya soal bahan baku. Umi mengaku pemasaran menjadi tantangan yang semakin terasa di tengah persaingan usaha yang terus berkembang.
Menurutnya, kemampuan memproduksi tempe dengan kualitas baik belum cukup untuk menjamin keberlangsungan usaha. Produk lokal juga membutuhkan akses pasar yang lebih luas agar mampu bertahan dan berkembang.
“Yang susah sekarang itu pemasarannya,” katanya.
- Advertisement -
Kendala tersebut menjadi kenyataan yang dihadapi banyak pelaku UMKM. Di satu sisi mereka mampu menghasilkan produk yang baik, tetapi di sisi lain masih membutuhkan dukungan untuk memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan daya saing.
Dukungan Pemerintah untuk UMKM Lokal perjuangan pelaku usaha seperti Umi mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Lumajang. Bupati Lumajang, Indah Amperawati atau yang akrab disapa Bunda Indah, menilai usaha mikro berbasis produk lokal memiliki peran penting dalam membangun ekonomi masyarakat yang kuat dan berkelanjutan.
Menurutnya, usaha yang tumbuh dari lingkungan keluarga memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar aktivitas ekonomi. Di dalamnya terdapat keterampilan yang diwariskan, kesempatan kerja bagi masyarakat, serta kearifan lokal yang perlu terus dijaga.
“Produk lokal yang diwariskan turun-temurun harus terus diberi ruang untuk berkembang. Karena di balik sebuah usaha kecil, ada keluarga yang menggantungkan hidup, ada masyarakat yang ikut bekerja, dan ada kearifan lokal yang harus kita jaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah terus mendorong penguatan UMKM melalui berbagai program pendampingan, peningkatan kapasitas usaha, pengembangan pemasaran, hingga pemanfaatan berbagai peluang yang dapat membantu produk lokal berkembang lebih luas.
“Ekonomi masyarakat akan semakin kuat ketika potensi lokal dikembangkan bersama. Pemerintah hadir untuk mendampingi agar usaha kecil tidak berjalan sendiri,” tambahnya.
Bagi Bunda Indah, keberhasilan UMKM bukan hanya tentang peningkatan ekonomi, tetapi juga tentang tumbuhnya kemandirian masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Menjaga Warisan, Menumbuhkan Harapan meski berbagai tantangan masih harus dihadapi, Umi tetap memandang masa depan dengan optimisme. Ia berharap kelompok usaha yang pernah aktif di lingkungannya dapat kembali berkembang sehingga semakin banyak warga yang mendapatkan manfaat ekonomi.
“Saya ingin kelompok itu berkembang lagi. Dulu sempat vakum, sekarang ingin dihidupkan kembali,” ungkapnya.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa usaha tempe yang dijalankannya bukan sekadar kegiatan produksi pangan. Lebih dari itu, usaha tersebut menjadi bagian dari upaya membangun jejaring ekonomi masyarakat dan memperkuat semangat kemandirian warga.
Kisah Umi Jamilah menjadi gambaran nyata tentang ketangguhan ekonomi rakyat yang tumbuh dari lingkungan sederhana. Dengan pengalaman, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi, usaha yang diwariskan dari generasi ke generasi itu tetap bertahan menghadapi berbagai perubahan.
Dari Desa Labruk Lor, tersimpan pelajaran bahwa warisan keluarga dapatkan menjadi kekuatan ekonomi yang berharga. Dalam setiap bungkus tempe yang dihasilkan, terdapat cerita tentang perjuangan, pemberdayaan masyarakat, dan harapan agar usaha kecil terus menjadi fondasi kesejahteraan bagi generasi mendatang.
(Rokib)




