Jatim.Rasionews.com|Banyuwangi – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (gas melon) kini menjadi sorotan publik. Di sejumlah wilayah, warga mengaku kesulitan mendapatkan gas subsidi, bahkan harus antre panjang hingga harga melonjak di pasaran. Apalagi kelangkaan gas elpiji menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Jumat 20 Maret 2026.
Kondisi ini memicu pertanyaan serius terhadap pemerintah, setelah sebelumnya menyatakan stok dalam kondisi aman.
Fakta di Lapangan
Gas elpiji 3 kg sulit ditemukan di agen maupun pengecer.
Warga harus antre sejak pagi dan berebut dalam operasi pasar.
- Advertisement -
Harga melonjak hingga Rp25 ribu – Rp30 ribu per tabung.
Operasi pasar digelar, namun stok langsung habis dalam hitungan jam. �
Situasi ini memperlihatkan adanya ketimpangan antara kebutuhan riil masyarakat dan distribusi di lapangan.
- Advertisement -
Pemerintah: Stok Aman, Masalah Distribusi
Pemerintah daerah bersama Pertamina menyebut secara umum stok LPG masih tersedia, bahkan telah dilakukan penambahan pasokan hingga 172 ribu tabung (naik sekitar 11%) untuk Banyuwangi.
Namun, mereka mengakui beberapa faktor yang memicu kelangkaan:
Lonjakan konsumsi menjelang Lebaran
Keterlambatan distribusi
Dugaan penimbunan
Panic buying masyarakat �
Kabar Banyuwangi
Desakan Publik & DPRD
DPRD Banyuwangi turut menyoroti kondisi ini dan mendesak pemerintah segera bertindak. Mereka menilai ada ketidaksesuaian antara laporan “stok aman” dan kondisi nyata di masyarakat
Selain itu, pengawasan distribusi dinilai lemah dan perlu penindakan tegas terhadap:
Agen nakal
Penimbunan
Penyalahgunaan LPG subsidi ke sektor industri
Kesimpulan
Kelangkaan LPG 3 kg di Banyuwangi bukan sekadar isu, tetapi krisis distribusi nyata di lapangan.
Publik kini menuntut:
Transparansi data stok
Pemerataan distribusi
Penindakan tegas terhadap oknum
Penambahan kuota sesuai kebutuhan riil
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi terus berulang setiap menjelang hari besar, dan semakin membebani masyarakat kecil serta pelaku UMKM.
Pewarna. Kin




