Jatim.Rasionews.com|BANYUWANGI, – Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto, M.Si., turun langsung memantau arus mudik di jalur penyeberangan Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk, Rabu (18/3/2026), menjelang penutupan total layanan saat Hari Raya Nyepi di Bali.
Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan kelancaran arus kendaraan, sekaligus mengantisipasi lonjakan penumpang sebelum operasional pelabuhan dihentikan sementara.
Berdasarkan jadwal resmi, Pelabuhan Ketapang ditutup mulai Rabu (18/3) pukul 18.00 WIB hingga Jumat (20/3) pukul 06.00 WIB. Sementara Pelabuhan Gilimanuk menghentikan layanan sehari setelahnya, yakni Kamis (19/3) pukul 05.00 WITA hingga Jumat (20/3) pukul 06.00 WITA, seiring perayaan Hari Raya Nyepi.
Pantauan di lapangan menunjukkan, arus kendaraan dari Ketapang menuju Bali relatif padat namun tetap bergerak lancar. Sebaliknya, arus dari Gilimanuk ke Jawa masih mengalami antrean kendaraan hingga sekitar 9 kilometer, meski kondisi ini berangsur membaik dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai 30–40 kilometer.
“Dari Ketapang cenderung landai karena mendekati penutupan, sementara dari Gilimanuk masih terjadi antrean yang terus kami urai,” ujar Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto.
- Advertisement -
Kapolda menegaskan, pemantauan langsung dilakukan untuk mendapatkan gambaran riil kondisi di lapangan sekaligus memastikan strategi pengamanan berjalan efektif.
Data dari ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang mencatat, lebih dari 250 ribu orang telah menyeberang keluar Bali hingga 17 Maret 2026. Angka ini meningkat sekitar 3–4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh berdekatan dengan momentum Nyepi, Lebaran, serta cuti bersama, yang membuat pergerakan masyarakat terjadi hampir bersamaan.
Mengantisipasi hal tersebut, Polda Jatim bersama pemangku kepentingan telah menyiapkan berbagai langkah strategis, mulai dari buffer zone, penguatan pengamanan, hingga pengaturan ritme operasional kapal.
- Advertisement -
“Kami perkirakan arus balik nanti jumlahnya bisa sama bahkan lebih besar. Karena itu, skenario pengamanan sudah kami siapkan dari sekarang,” tegasnya.
Untuk mempercepat distribusi kendaraan dan mengurai antrean, ASDP mengoperasikan total 40 kapal di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Sebanyak 22 kapal menggunakan skema Tiba Bongkar Berangkat (TBB), sementara sisanya melayani pola bongkar muat reguler. Kebijakan ini terbukti mampu menekan kepadatan, terutama pada jam-jam puncak keberangkatan.
Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, memastikan kesiapan daerah dalam mendukung kelancaran arus mudik dan balik.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menyiagakan 13 puskesmas rawat jalan dan rawat inap yang beroperasi 24 jam, serta didukung 13 rumah sakit dengan total sekitar 1.250 tenaga kesehatan. Tak hanya itu, sebanyak 48 masjid ramah pemudik juga disiapkan di sepanjang jalur utama, sebagai tempat istirahat sekaligus sarana ibadah bagi para pelintas.
“Kami ingin memastikan pemudik merasa aman, nyaman, dan terlayani selama melintas di Banyuwangi,” ujar Mujiono.
Meski ASDP memprediksi arus balik akan cenderung lebih landai, kewaspadaan tetap ditingkatkan. Koordinasi lintas sektor antara kepolisian, TNI, pemerintah daerah, dan otoritas pelabuhan terus diperkuat untuk mengantisipasi lonjakan pergerakan masyarakat pasca Lebaran.
Dengan berbagai langkah tersebut, diharapkan arus mudik dan balik 2026 di jalur vital Jawa–Bali tetap terkendali, aman, dan lancar meski dihadapkan pada momentum besar yang terjadi secara berdekatan.
Pewarta. MAHDURIDI




