Pemulihan Ekonomi Huntap Semeru Belum Pulih, Warga Bertahan Dari Penambang Pasir Hingga Merantau
Lumajang, (Jatim Rasionews.com) Empat tahun pasca erupsi Gunung Semeru, denyut ekonomi warga di kawasan Hunian Tetap Sumber Mujur masih tertatih. Lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup hilang diterjang material vulkanik, memaksa warga banting setir menjadi penambang pasir hingga merantau ke luar daerah.
Kondisi itu tergambar dari penyampaian Bu Isma, warga Huntap Blok Al-Habib A5 No.13. Perempuan asal Curah Kobokan ini mengaku telah empat tahun menempati huntap tersebut.
“Sudah empat tahun di sini mas,” ujar Bu Isma.
Ia menceritakan, sebelum bencana, keluarganya menggantungkan hidup dari bertani. Lahan di Curah Kobokan ditanami cabai, tomat hingga kubis.
“Dulu tani di Curah Kobokan. Ada lahan, tanam cabai, tomat, gobes gitu. Tani,” ujarnya.
Namun erupsi merenggut segalanya. Lahan pertanian habis tertimbun.
“Pas ada musibah itu ya tani ini kan habis. Lahannya habis,” ucapnya.
Kini untuk menyambung hidup, suaminya beralih profesi menjadi pencari pasir di sekitar aliran lahar Semeru.
“Sekarang cari pasir untuk pendapatan,” kata Bu Isma.
Jika dibandingkan, ia mengaku pendapatan sebagai petani jauh lebih besar, terutama saat harga cabai sedang mahal.
“Selisih besar mas, besaran tani kalau pas panen cocok, cabai mahal,” jelasnya.
Terkait fasilitas di Huntap, Bu Isma meluruskan kabar adanya pasar. Menurutnya, kawasan yang kini menjadi huntap dulunya adalah kebun cengkeh dan kebun sayur milik warga kampung, bukan pasar.
“Di sini aslinya kan kebun, kebun cengkeh. Pertama itu kebun cengkeh. Kemudian dijadikan rumah ini sama pemerintah. Kalau pasarnya enggak ada,” tegasnya.
Untuk kebutuhan warung sembako yang Ia kelola, Ia harus kulakan ke toko-toko besar di luar, bukan dari pasar huntap.
“Saya kulaknya ke toko besar itu. Jadi bukan dari pasar,” katanya.
Ia juga mengaku belum pernah menerima program bantuan budidaya maupun ternak yang sempat dijanjikan.
“Program budidaya ikan, ternak itu ada yang dapat, tapi di sini banyak yang enggak dapat. Saya enggak pernah dapat. Di daerah sini enggak ada yang dapat,” ungkapnya. Saat ditanya soal pemulihan ekonomi, Ia menjawab singkat, “Ya belum mas, belum pulih.”
Senada dengan Muslimin Ketua RW 10 Perumahan Huntap Sumber Mujur Blok A, Muslimin, menyebut pemulihan ekonomi warga baru menyentuh angka 40 hingga 50 persen.
“Terus terang kalau masalah pemulihan ekonomi pasca bencana Semeru itu, untuk sekarang belum pulih 100%. Kalau dilihat secara detail, masalah ekonomi masyarakat di sini itu ya 40% sampai 50%,” jelas Muslimin.
Dampak paling terlihat adalah banyaknya rumah kosong. Warga memilih merantau untuk menghidupi keluarga.
“Warga sini itu banyak yang merantau, Surabaya, ada yang ke Malaysia, ada yang ke Kalimantan. Ya itu kan tergantung ekonomi. Untuk warga mau tetap kumpul di perumahan ini, ya otomatis mikir-mikir,” ujarnya.
“Sebagian rumah kosong itu karena merantau, sebagian lagi balik ke tempat asal kalau lahan pertaniannya masih ada yang bisa digarap,” tambahnya.
Muslimin mengaku tidak mengetahui secara pasti program pemulihan ekonomi berupa budidaya ikan dan ternak dari pemerintah.
“Kalau masalah program itu terus terang saya ndak tahu. Masalah budidaya ikan itu saya kurang memahami. Seandainya ada yang kesini datang ngasih tahu budidaya kayak gitu, otomatis saya tahu, bisa menjelaskan,” katanya.
Sementara untuk keberadaan pasar Huntap, Ia mengatakan pasar tersebut sudah berjalan meski masih merintis dan belum lengkap.
“Untuk pasar itu Alhamdulillah udah berjalan biarpun dikit-dikit. Kalau hari Sabtu, Minggu, Rabu itu rame pengunjung. Ya banyak juga yang belanja di situ. Sembako kayak sayur-sayuran lengkap di situ ada, tapi enggak tiap hari,” papar Muslimin.
Akibatnya, warga masih harus menempuh jarak jauh untuk memenuhi kebutuhan pokok harian.
“Kalau bahan pokok jauh. Pasar terdekat itu di Penanggal. Kalau pasar huntap ini masih merintis, jadi kurang begitu lengkap,” pungkasnya.***(Kib)




